Upskilling & reskilling merupakan strategi pengembangan kompetensi yang semakin penting dalam menghadapi perubahan industri supply chain dan logistik. Upskilling berfokus pada peningkatan keterampilan yang sudah dimiliki, sedangkan reskilling membantu seseorang mempelajari kompetensi baru untuk menjalankan peran yang berbeda. Simak penjelasan lebih lengkapnya melalui artikel TransTRACK Academy berikut ini!
Apa Itu Upskilling dan Reskilling?
Upskilling dan reskilling adalah dua pendekatan pengembangan kompetensi karyawan untuk menyesuaikan kemampuan dengan kebutuhan pekerjaan yang terus berubah.
- Upskilling adalah proses meningkatkan atau memperdalam keterampilan yang sudah dimiliki agar seseorang dapat menjalankan pekerjaan saat ini dengan lebih baik atau mengambil tanggung jawab yang lebih kompleks.
- Reskilling adalah proses mempelajari keterampilan baru agar seseorang dapat beralih ke peran atau jenis pekerjaan yang berbeda.
Contoh: Seorang staf logistik yang mempelajari data analytics dan forecasting untuk meningkatkan kinerja di posisi yang sama merupakan upskilling. Sementara itu, jika staf tersebut mempelajari pemrograman atau digital supply chain untuk berpindah ke posisi sebagai data analyst, hal tersebut termasuk reskilling.
Perbedaan Upskilling dan Reskilling
Perbedaan utama upskilling dan reskilling terletak pada tujuan pengembangan kompetensinya. Upskilling berfokus pada peningkatan keterampilan yang sudah dimiliki untuk mendukung pekerjaan atau posisi saat ini, sedangkan reskilling bertujuan membekali seseorang dengan keterampilan baru untuk menjalankan peran yang berbeda.
| Aspek | Upskilling | Reskilling |
| Fokus | Meningkatkan kompetensi yang sudah ada | Mempelajari kompetensi baru |
| Tujuan | Meningkatkan kinerja pada peran saat ini | Mendukung perpindahan ke peran baru |
| Contoh | Staf warehouse mempelajari WMS dan data analytics | Staf warehouse belajar menjadi supply chain analyst |
| Hasil | Kompetensi semakin mendalam | Kompetensi baru untuk fungsi berbeda |
Upskilling dalam Supply Chain Management
Dalam supply chain management, upskilling membantu profesional meningkatkan kemampuan agar dapat mengikuti perkembangan teknologi, proses operasional, dan kebutuhan industri. Contohnya meliputi pembelajaran data analytics, demand forecasting, inventory management, warehouse management system (WMS), transportation management system (TMS), hingga pemanfaatan AI dalam supply chain.
Dengan upskilling, karyawan dapat meningkatkan produktivitas, memahami data operasional dengan lebih baik, serta mengambil keputusan yang lebih tepat dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Reskilling dalam Supply Chain Management
Reskilling dalam supply chain management dilakukan ketika seseorang perlu mengembangkan keahlian baru untuk beralih ke fungsi atau posisi yang berbeda. Perubahan ini semakin relevan ketika digitalisasi mengubah kebutuhan kompetensi di sektor supply chain dan logistik.
Sebagai contoh, staf administrasi logistik dapat mempelajari data analytics, SQL, atau business intelligence untuk beralih ke peran sebagai supply chain data analyst. Sementara itu, staf operasional dapat mempelajari sistem digital dan automation untuk mendukung peran dalam digital supply chain.
Mengapa Upskilling dan Reskilling Penting dalam Supply Chain Management?
Upskilling dan reskilling penting dalam supply chain management karena industri terus mengalami perubahan akibat digitalisasi, otomatisasi, tuntutan efisiensi, dan perkembangan teknologi. Karyawan perlu memiliki kompetensi yang sesuai agar dapat mengikuti perubahan tersebut dan tetap mendukung kinerja operasional perusahaan.
Beberapa alasan utamanya meliputi:
- Mengikuti perkembangan teknologi
Penggunaan AI, IoT, WMS, TMS, dan data analytics membutuhkan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan serta memanfaatkan teknologi tersebut. - Meningkatkan efisiensi operasional
Kompetensi yang lebih baik membantu karyawan mengoptimalkan proses seperti inventory management, warehouse, procurement, dan distribusi. - Mengurangi kesenjangan keterampilan
Upskilling dan reskilling membantu perusahaan menyesuaikan kemampuan tenaga kerja dengan kebutuhan kompetensi yang terus berkembang. - Meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan
Pemahaman terhadap data dan teknologi memungkinkan profesional supply chain menghasilkan analisis yang lebih akurat untuk mendukung keputusan operasional. - Mendukung transformasi digital
Digitalisasi supply chain tidak hanya membutuhkan sistem dan teknologi, tetapi juga tenaga kerja yang mampu menggunakannya secara efektif. - Mempersiapkan tenaga kerja untuk perubahan peran
Reskilling memungkinkan karyawan beradaptasi ketika otomatisasi atau perubahan proses kerja menciptakan kebutuhan terhadap posisi dan kompetensi baru.
Strategi Upskilling dalam Supply Chain Management
Strategi upskilling dalam supply chain management berfokus pada peningkatan kemampuan yang sudah dimiliki karyawan agar lebih sesuai dengan perkembangan proses, teknologi, dan kebutuhan operasional. Beberapa strategi yang dapat diterapkan meliputi:
Meningkatkan Kompetensi yang Sudah Dimiliki
Perusahaan dapat memberikan pelatihan, sertifikasi, workshop, dan pembelajaran berbasis praktik untuk memperdalam kompetensi karyawan. Misalnya, staf inventory dapat meningkatkan kemampuan dalam demand forecasting, inventory analytics, dan penggunaan WMS, sementara staf transportasi dapat memperdalam penggunaan TMS dan data analytics.
Selain pelatihan formal, perusahaan dapat menerapkan mentoring, coaching, job enrichment, dan project-based learning agar karyawan dapat langsung menerapkan keterampilan yang dipelajari dalam pekerjaan sehari-hari.
Strategi Reskilling dalam Supply Chain Management
Berbeda dengan upskilling, strategi reskilling bertujuan mempersiapkan karyawan untuk menjalankan fungsi atau posisi baru. Strategi ini dapat dilakukan melalui pemetaan kebutuhan kompetensi, pelatihan lintas fungsi, program sertifikasi, serta pembelajaran berbasis proyek.
Menyiapkan Peran dan Kompetensi Baru
Perusahaan perlu mengidentifikasi peran baru yang muncul akibat digitalisasi dan otomatisasi supply chain, kemudian menentukan kompetensi yang dibutuhkan untuk mengisi posisi tersebut. Misalnya, karyawan operasional dapat diberikan pelatihan data analytics, AI, automation, atau digital supply chain untuk mempersiapkan transisi ke peran seperti supply chain analyst, digital logistics specialist, atau automation specialist.
Dengan pendekatan ini, reskilling tidak hanya membantu karyawan beradaptasi dengan perubahan kebutuhan pekerjaan, tetapi juga membantu perusahaan membangun talent pool internal untuk memenuhi kebutuhan kompetensi baru.
Perubahan Industri yang Mendorong Kebutuhan Upskilling dan Reskilling
Perkembangan industri supply chain dan logistik membuat perusahaan membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi yang terus diperbarui. Beberapa perubahan yang mendorong kebutuhan upskilling dan reskilling antara lain:
- Digitalisasi Supply Chain
Penggunaan WMS, TMS, IoT, cloud, dan platform digital membutuhkan kemampuan baru dalam mengoperasikan dan memanfaatkan teknologi. - Otomatisasi dan AI
AI dan otomatisasi mulai digunakan untuk forecasting, optimasi rute, inventory planning, hingga monitoring operasional sehingga pola kerja dan kebutuhan kompetensi ikut berubah. - Pemanfaatan Data
Pengambilan keputusan semakin bergantung pada data, sehingga kemampuan seperti data analytics dan data interpretation menjadi semakin penting. - Tuntutan Efisiensi dan Resiliensi
Perusahaan perlu mengendalikan biaya sekaligus menghadapi berbagai gangguan supply chain. Karyawan perlu memiliki kemampuan analisis, problem solving, dan risk management yang lebih baik. - Perkembangan Green Supply Chain
Fokus pada pengurangan emisi dan penggunaan sumber daya yang lebih efisien menciptakan kebutuhan terhadap kompetensi seperti carbon tracking dan sustainable logistics.
Keterampilan yang Dibutuhkan dalam Supply Chain Management
Profesional supply chain management membutuhkan kombinasi keterampilan teknis, digital, analitis, dan interpersonal. Kompetensi tersebut membantu memastikan proses pengadaan, produksi, pergudangan, hingga distribusi berjalan secara efektif.
Keterampilan Teknis untuk Profesional Supply Chain
Keterampilan teknis mencakup pemahaman tentang procurement, inventory management, warehouse management, demand forecasting, transportation, distribution, dan supply chain planning. Pemahaman terhadap SOP, KPI, serta proses operasional juga penting untuk mengidentifikasi masalah dan meningkatkan efisiensi.
Keterampilan Digital dan Analisis Data
Digitalisasi membuat kemampuan menggunakan WMS, TMS, ERP, IoT, data analytics, dan berbagai platform supply chain semakin relevan. Profesional juga perlu mampu membaca, mengolah, dan menganalisis data untuk mendukung forecasting, monitoring inventory, optimasi rute, serta pengambilan keputusan.
Keterampilan Manajerial dan Kolaborasi Lintas Fungsi
Supply chain melibatkan banyak fungsi, sehingga kemampuan komunikasi, negosiasi, problem solving, leadership, dan collaboration sangat dibutuhkan. Profesional supply chain perlu berkoordinasi dengan procurement, warehouse, produksi, finance, sales, hingga supplier untuk memastikan seluruh proses berjalan selaras.
Kesimpulan
Upskilling dan reskilling menjadi bagian penting dalam mempersiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan di industri supply chain dan logistik. Perkembangan digitalisasi, otomatisasi, AI, dan kebutuhan pengelolaan data membuat profesional supply chain perlu terus meningkatkan kompetensi, baik dengan memperdalam keterampilan yang sudah dimiliki maupun mempelajari kemampuan baru.
Salah satu cara untuk mengembangkan kompetensi tersebut adalah melalui pembelajaran yang terstruktur dan berbasis praktik. TransTRACK Academy menghadirkan Bootcamp Supply Chain Management untuk membantu peserta memahami berbagai aspek supply chain, mulai dari fundamental, sourcing & procurement, demand planning, inventory, warehouse, transportation, hingga distribution.
Tingkatkan kompetensi dan siapkan diri menghadapi kebutuhan industri supply chain yang terus berkembang. Ikuti Bootcamp Supply Chain Management dari TransTRACK Academy dan kembangkan keterampilan yang relevan untuk dunia kerja.
FAQ
Metode apa saja yang ada di supply chain management?
Beberapa metode yang umum digunakan dalam supply chain management antara lain Just-in-Time (JIT), Just-in-Case (JIC), Vendor Managed Inventory (VMI), Economic Order Quantity (EOQ), Milk Run, dan Demand-Driven Supply Chain. Pemilihan metode disesuaikan dengan karakteristik bisnis, kebutuhan persediaan, pola permintaan, serta kondisi pemasok.
Apa saja contoh kegiatan supply chain management?
Kegiatan supply chain management mencakup perencanaan permintaan, pengadaan bahan baku, manajemen persediaan, pergudangan, pengelolaan transportasi, distribusi, hingga monitoring pengiriman. Seluruh aktivitas tersebut saling terhubung untuk memastikan barang tersedia dalam jumlah, waktu, dan lokasi yang sesuai.
Bagaimana peran teknologi dalam mendukung perkembangan kompetensi dalam Supply Chain Management?
Teknologi membantu profesional supply chain mengembangkan kompetensi digital dan analitis melalui penggunaan WMS, TMS, ERP, IoT, AI, dan data analytics. Penguasaan teknologi tersebut memungkinkan karyawan memahami data operasional, melakukan forecasting, memantau proses secara real-time, serta mengambil keputusan berdasarkan data.











