Chase Strategy adalah pendekatan dalam manajemen operasi yang membuat tingkat produksi mengikuti fluktuasi permintaan pasar. Strategi ini banyak digunakan oleh perusahaan dengan permintaan musiman atau yang sering berubah karena membantu meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi penumpukan stok. Simak penjelasan lebih lengkapnya melalui artikel TransTRACK Academy berikut ini!
Apa Itu Chase Strategy?
Chase Strategy adalah strategi perencanaan produksi dan kapasitas dalam manajemen operasi yang menyesuaikan tingkat produksi dengan perubahan permintaan pelanggan. Dalam strategi ini, perusahaan akan meningkatkan atau mengurangi kapasitas produksi agar sejalan dengan fluktuasi permintaan, sehingga persediaan (inventory) dapat dijaga tetap rendah.
Dengan kata lain, produksi “mengejar” (chase) permintaan pasar. Saat permintaan meningkat, perusahaan menambah tenaga kerja, jam lembur, atau kapasitas produksi. Sebaliknya, ketika permintaan menurun, kapasitas produksi juga dikurangi.
Bagaimana Chase Demand Strategy Bekerja?
Chase Demand Strategy bekerja dengan menyesuaikan kapasitas produksi mengikuti perubahan permintaan pelanggan. Saat permintaan meningkat, perusahaan menambah kapasitas melalui lembur, tenaga kerja sementara, atau shift tambahan. Sebaliknya, ketika permintaan menurun, kapasitas produksi juga dikurangi.
Strategi ini diawali dengan peramalan permintaan (demand forecasting), kemudian perusahaan menyesuaikan sumber daya dan jadwal produksi agar jumlah barang yang dihasilkan sesuai kebutuhan pasar. Dengan demikian, persediaan tetap rendah, biaya penyimpanan dapat ditekan, dan risiko kelebihan stok dapat diminimalkan.
Perbedaan Chase Strategy dan Level Strategy
Meskipun sama-sama digunakan dalam perencanaan produksi, Chase Strategy dan Level Strategy memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengelola kapasitas dan memenuhi permintaan. Berikut perbandingannya:
| Aspek | Chase Strategy | Level Strategy |
| Pendekatan Produksi | Produksi disesuaikan dengan perubahan permintaan. | Produksi dijaga tetap stabil meskipun permintaan berubah. |
| Persediaan | Persediaan cenderung rendah. | Persediaan digunakan untuk memenuhi fluktuasi permintaan. |
| Kapasitas Produksi | Fleksibel, mengikuti permintaan pasar. | Relatif tetap sepanjang periode. |
| Tenaga Kerja | Jumlah tenaga kerja dapat bertambah atau berkurang sesuai kebutuhan. | Tenaga kerja lebih stabil dengan sedikit perubahan. |
| Biaya Utama | Lebih banyak biaya penyesuaian tenaga kerja dan kapasitas. | Lebih banyak biaya penyimpanan inventaris. |
| Cocok untuk | Bisnis dengan permintaan yang fluktuatif atau musiman. | Bisnis dengan permintaan yang relatif stabil dan dapat diprediksi. |
Kelebihan dan Kekurangan Chase Strategy di Lapangan
Penerapan Chase Strategy dapat memberikan berbagai manfaat bagi perusahaan, terutama dalam menghadapi permintaan yang berubah-ubah. Namun, strategi ini juga memiliki sejumlah tantangan yang perlu dipertimbangkan.
| Kelebihan | Kekurangan |
| Mengurangi biaya penyimpanan karena persediaan lebih rendah. | Biaya rekrutmen, pelatihan, dan pengurangan tenaga kerja bisa meningkat. |
| Meminimalkan risiko kelebihan stok dan produk usang. | Membutuhkan peramalan permintaan yang akurat. |
| Produksi lebih sesuai dengan kebutuhan pelanggan. | Penjadwalan produksi menjadi lebih kompleks. |
| Meningkatkan efisiensi penggunaan kapasitas produksi. | Risiko keterlambatan jika lonjakan permintaan terjadi secara tiba-tiba. |
| Cocok untuk bisnis dengan permintaan musiman atau fluktuatif. | Kualitas produk dapat terdampak jika penambahan kapasitas dilakukan secara terburu-buru. |
Cara Menghitung Chase Strategy
Dalam Chase Strategy, jumlah produksi disesuaikan dengan permintaan pada setiap periode. Oleh karena itu, perusahaan perlu menghitung kebutuhan produksi dan kapasitas tenaga kerja agar mampu memenuhi permintaan tanpa menghasilkan persediaan berlebih.
Rumus Chase Strategy
1. Menghitung Jumlah Produksi

Artinya, target produksi pada setiap periode sama dengan jumlah permintaan yang diperkirakan.
2. Menghitung Kebutuhan Tenaga Kerja

3. Menghitung Penambahan atau Pengurangan Tenaga Kerja

Contoh Perhitungan
Misalkan sebuah perusahaan menerima permintaan 12.000 unit dalam satu bulan. Setiap karyawan mampu memproduksi 600 unit per bulan, dan perusahaan saat ini memiliki 18 karyawan.
Perhitungan:
- Jumlah Produksi = 12.000 unit
- Kebutuhan Tenaga Kerja = 12.000 ÷ 600 = 20 orang
- Perubahan Tenaga Kerja = 20 − 18 = 2 orang
Artinya, perusahaan perlu menambah 2 karyawan agar kapasitas produksi sesuai dengan permintaan bulan tersebut. Jika pada periode berikutnya permintaan menurun, kebutuhan tenaga kerja juga akan berkurang sehingga kapasitas produksi tetap selaras dengan kebutuhan pasar.
Kesimpulan
Chase Strategy merupakan metode perencanaan produksi yang menyesuaikan kapasitas dengan perubahan permintaan pelanggan. Strategi ini membantu perusahaan mengurangi biaya penyimpanan, meminimalkan kelebihan stok, dan meningkatkan efisiensi operasional. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada peramalan permintaan yang akurat serta kemampuan perusahaan dalam mengelola kapasitas produksi secara fleksibel.
Ingin memahami lebih dalam strategi perencanaan produksi, inventory management, demand planning, hingga supply chain end-to-end? Tingkatkan kompetensi Anda bersama Intensive Bootcamp Supply Chain Management dari TransTRACK Academy. Pelajari langsung dari praktisi industri melalui pembelajaran yang aplikatif dan studi kasus nyata untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan supply chain modern.
FAQ
Apa perbedaan mendasar antara Level Strategy dan Chase Strategy?
Perbedaan utama terletak pada pendekatan terhadap kapasitas produksi. Level Strategy mempertahankan tingkat produksi yang stabil meskipun permintaan berubah, sehingga fluktuasi permintaan dipenuhi melalui persediaan. Sementara itu, Chase Strategy menyesuaikan kapasitas produksi mengikuti perubahan permintaan, sehingga persediaan dapat ditekan seminimal mungkin.
Kapan sebaiknya perusahaan menggunakan Chase Strategy?
Chase Strategy cocok digunakan ketika permintaan bersifat musiman atau sering berfluktuasi. Strategi ini efektif bagi perusahaan yang memiliki fleksibilitas dalam mengatur tenaga kerja, jam produksi, atau kapasitas operasional sehingga dapat merespons perubahan permintaan dengan cepat.
Di industri apa saja model Chase Strategy ini diterapkan?
Chase Strategy banyak diterapkan pada industri yang mengalami perubahan permintaan secara signifikan, seperti manufaktur, makanan dan minuman (F&B), fesyen dan apparel, elektronik, e-commerce, serta logistik. Strategi ini membantu perusahaan menyesuaikan kapasitas produksi agar tetap efisien tanpa menumpuk persediaan.











