Apa Itu Just in Time Inventory? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya 

Just in Time Inventory
Just in Time Inventory
Reading Time: 4 minutes

Just in Time (JIT) Inventory adalah metode manajemen persediaan yang memastikan bahan baku atau produk tersedia tepat saat dibutuhkan, sehingga perusahaan dapat mengurangi stok berlebih, biaya penyimpanan, dan pemborosan tanpa mengganggu operasional. Simak penjelasan lebih lengkapnya melalui artikel TransTRACK Academy berikut ini!

Apa Itu Just in Time (JIT) Inventory?

Just in Time (JIT) Inventory adalah metode manajemen persediaan yang mengatur agar barang, bahan baku, atau komponen datang tepat saat dibutuhkan dalam proses produksi atau operasional, bukan disimpan dalam jumlah besar sejak awal.

Tujuan utama JIT adalah mengurangi persediaan berlebih, biaya penyimpanan, risiko barang rusak atau usang, serta meningkatkan efisiensi operasional. Penerapannya membutuhkan perencanaan permintaan, koordinasi dengan supplier, dan pengelolaan rantai pasok yang akurat agar ketersediaan barang tetap terjaga.

Komponen Utama Just-in-Time Inventory System

Penerapan Just-in-Time (JIT) Inventory didukung oleh beberapa komponen yang membantu perusahaan menjaga ketersediaan persediaan sesuai kebutuhan sekaligus meminimalkan pemborosan.

Kanban System

Sistem Kanban menggunakan sinyal untuk mengatur kapan bahan atau produk perlu diproduksi, dipindahkan, atau dipesan kembali. Cara ini membantu menjaga persediaan tetap sesuai kebutuhan aktual.

Continuous Improvement (Kaizen)

Kaizen berfokus pada perbaikan proses secara berkelanjutan untuk mengurangi pemborosan, meningkatkan efisiensi, dan menjaga kualitas operasional.

Kemitraan Pemasok Andal

JIT membutuhkan pemasok yang mampu menyediakan barang tepat waktu, dalam jumlah sesuai, dan dengan kualitas konsisten untuk meminimalkan risiko stockout dan gangguan operasional.

Cara Kerja dan Pengendalian Just in Time Inventory Control

Penerapan Just in Time (JIT) Inventory Control mengikuti alur pull system, yaitu kebutuhan aktual menjadi dasar pergerakan persediaan dari pemesanan bahan baku hingga distribusi produk.

Langkah 1: Permintaan Pelanggan Memicu Alur (Pull System)

Permintaan pelanggan menjadi pemicu proses pemenuhan pesanan. Informasi tersebut menentukan jumlah produk yang perlu diproduksi dan persediaan yang harus disiapkan.

Langkah 2: Pemesanan Bahan Baku secara Presisi

Bahan baku dipesan berdasarkan kebutuhan produksi, jumlah yang diperlukan, dan waktu pengiriman agar tersedia tepat saat dibutuhkan tanpa menimbulkan kelebihan stok.

Langkah 3: Proses Manufaktur Cepat dan Ramah Efisiensi

Produksi dilakukan sesuai kebutuhan dengan meminimalkan waktu tunggu, aktivitas yang tidak diperlukan, dan pemborosan untuk menjaga efisiensi proses.

Langkah 4: Distribusi Langsung ke Konsumen

Produk yang telah selesai diproses segera didistribusikan sesuai pesanan dan jadwal pengiriman. Hal ini membantu mengurangi waktu penyimpanan sekaligus mempercepat pemenuhan kebutuhan pelanggan.

Cara Menghitung Just in Time Inventory

Perhitungan Just in Time (JIT) Inventory bertujuan menentukan jumlah persediaan yang perlu tersedia sesuai kebutuhan aktual dan waktu pengadaan. Tidak ada satu rumus tunggal untuk JIT, tetapi beberapa perhitungan berikut dapat digunakan sebagai dasar pengendalian persediaan.

1. Menghitung Kebutuhan Persediaan

Kebutuhan persediaan dapat dihitung berdasarkan tingkat penggunaan selama periode tertentu.

Rumus:

Kebutuhan Persediaan = Rata-rata Penggunaan × Lead Time

Contoh:
Jika perusahaan menggunakan 100 unit bahan baku per hari dan lead time supplier adalah 3 hari, maka kebutuhan selama lead time adalah:

100 × 3 = 300 unit

Artinya, sekitar 300 unit perlu dipastikan tersedia untuk memenuhi kebutuhan selama periode pengadaan.

2. Menghitung Reorder Point (ROP)

ROP membantu menentukan kapan perusahaan perlu melakukan pemesanan kembali agar bahan baku tiba tepat waktu.

Rumus:

ROP = Rata-rata Penggunaan Harian × Lead Time

Jika penggunaan mencapai 100 unit per hari dengan lead time 3 hari:

ROP = 100 × 3 = 300 unit

Ketika persediaan mendekati 300 unit, perusahaan dapat melakukan pemesanan kembali.

3. Menghitung Inventory Turnover

Inventory turnover digunakan untuk mengetahui seberapa sering persediaan berputar dalam periode tertentu.

Rumus:

Inventory Turnover = Harga Pokok Penjualan (HPP) ÷ Rata-rata Persediaan

Semakin tinggi perputaran persediaan, semakin sering stok digunakan dan digantikan dalam suatu periode. Namun, angka yang terlalu tinggi juga perlu diperhatikan karena dapat menunjukkan risiko persediaan tidak mencukupi.

4. Menghitung Persediaan Rata-rata

Untuk mengevaluasi apakah penerapan JIT berhasil menekan jumlah stok, perusahaan dapat menghitung rata-rata persediaan.

Rumus sederhana:

Rata-rata Persediaan = (Persediaan Awal + Persediaan Akhir) ÷ 2

Hasilnya dapat digunakan untuk membandingkan tingkat persediaan sebelum dan sesudah penerapan JIT.

Kelebihan dan Kekurangan Just in Time Inventory System

Penerapan Just in Time (JIT) Inventory System memberikan manfaat dalam efisiensi persediaan, tetapi juga memiliki tantangan yang perlu dikelola agar operasional tetap berjalan lancar.

Kelebihan / Keuntungan (Advantages)Kekurangan / Tantangan (Disadvantages)
Mengurangi biaya penyimpanan karena stok yang disimpan lebih sedikit.Risiko stockout lebih tinggi ketika terjadi lonjakan permintaan.
Meminimalkan overstock dan risiko barang rusak atau usang.Sangat bergantung pada keandalan supplier.
Mengoptimalkan penggunaan ruang gudang.Rentan terhadap keterlambatan transportasi dan gangguan supply chain.
Mengurangi modal yang tertahan dalam persediaan.Membutuhkan perencanaan kebutuhan yang akurat.
Meningkatkan efisiensi proses pengadaan dan produksi.Kurang fleksibel terhadap perubahan permintaan yang mendadak.
Meningkatkan inventory turnover karena stok bergerak sesuai kebutuhan.Membutuhkan koordinasi dan visibilitas inventory yang baik.

Kesimpulan

Just in Time (JIT) Inventory merupakan pendekatan pengelolaan persediaan yang menyesuaikan pengadaan dan ketersediaan barang dengan kebutuhan aktual. Sistem ini dapat membantu mengurangi persediaan berlebih, biaya penyimpanan, dan pemborosan, tetapi membutuhkan perencanaan yang akurat, visibilitas supply chain, serta pemasok yang andal.

Memahami JIT tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang inventory, tetapi juga pemahaman menyeluruh mengenai demand planning, procurement, warehouse, transportation, hingga distribution. Untuk memperdalam kompetensi tersebut, ikuti Bootcamp Supply Chain Management dari TransTRACK Academy dan pelajari berbagai konsep supply chain melalui pembelajaran yang terstruktur dan aplikatif.

FAQ

Apa perbedaan utama antara Just-in-Time (JIT) dan Just-in-Case (JIC)?

JIT menjaga persediaan pada tingkat minimum dan melakukan pengadaan sesuai kebutuhan aktual. Sementara itu, JIC menyimpan persediaan lebih banyak sebagai cadangan untuk menghadapi lonjakan permintaan atau gangguan pasokan. JIT berfokus pada efisiensi, sedangkan JIC lebih menekankan ketersediaan stok.

Jenis industri apa saja yang paling sukses menerapkan metode JIT?

JIT banyak diterapkan pada industri dengan permintaan relatif terencana dan proses supply chain yang terkoordinasi, seperti otomotif, elektronik, manufaktur, ritel, dan FMCG. Tingkat keberhasilannya bergantung pada karakteristik produk, stabilitas permintaan, serta kemampuan perusahaan dan supplier dalam mengelola pasokan.

Perangkat teknologi apa yang dibutuhkan untuk menjalankan Just in Time Inventory Management?

Teknologi yang umum digunakan meliputi Warehouse Management System (WMS), Enterprise Resource Planning (ERP), Inventory Management System, barcode atau RFID, demand forecasting tools, serta sistem integrasi dengan supplier. Teknologi tersebut membantu meningkatkan visibilitas stok dan mempercepat pertukaran informasi.

Bagaimana cara mengatasi risiko keterlambatan pemasok dalam sistem JIT?

Perusahaan dapat mengurangi risiko dengan memilih supplier yang andal, memantau kinerja pemasok, menetapkan SLA yang jelas, meningkatkan visibilitas pengiriman, dan menyiapkan pemasok alternatif. Safety stock dalam jumlah terbatas juga dapat dipertimbangkan untuk komponen atau bahan yang memiliki risiko pasokan tinggi.